Home Renungan Kemerdekaan Sejati

Kemerdekaan Sejati

520
0
SHARE
Kemerdekaan Sejati

Salam Kemerdekaan +

Bulan ini adalah bulan kemerdekaan. Kita diingatkan mengenai kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan yang sesungguhnya bukanlah sekedar “merdeka dari” melainkan “merdeka untuk”. “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran” (Roma 6:18). Tidak cukuplah kita meninggalkan masa lalu, meninggalkan kelemahan, meninggalkan kegelapan. Kemerdekaan arahnya kedepan; yakni: bebas merdeka untuk bekerja, mengasihi, melayani, berkespresi, berkumpul, beribadah, hidup dalam kebenaran. Karena dengan dibabtis kita diangkat menjadi anak Allah dan dimasukkan menjadi anggota gereja Katolik yang kudus; semestinya dari hari ke hari kita semakin hidup dalam kekudusan.

Menggunakan setiap kesempatan untuk mengejar kekudusan, bukannya ikut dalam kejahatan dalam bentuk apapun juga. “Hiduplah  sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah” (1 Petrus 2:16).

Setiap pekerjaan bahkan pelayanan kita yang tampaknya baik tetap harus kita cermati, apakah tulus ataukah diselubungi kekuasaan kejahatan yang tanpa kita sadari telah merasuk ke dalam alam bawah sadar kita, alias kita biarkan menguasai pola pikir kita. Andai saja pekerjaan dan pelayanan kita, baik di keluarga, di lingkungan pekerjaan kita, di gereja, maupun di masyarakat luas: bisa menjadi berkat bagi orang lain.

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seseorang akan yang lain oleh kasih” (Gal 5:13). Semakin tinggi jabatan kita, semakin banyak (=mudah) kesempatan untuk jatuh dalam dosa. Fakta membuktikan, berita-berita hari ini: ada tangkap tangan, ada tangkap kaki, ada tangkap apa lagi? Tidak lagi mengasihi pasangan tanpa rasa salah sedikitpun. Meninggalkan keluarga tanpa tanggung jawab sedikitpun. Membangun kelompok-kelompok eksklusif, sementara gereja Keuskupan sedang gencar-gencarnya mengalakkan komunitas inklusif.

Jangan-jangan kia masuk dalam ranah ini? Syukur kepada Allah bilamana kita bisa hidup dalam kemerdekaan dan kekudusan: semakin mengasihi keluarga, bertanggung jawab sepenuhnya atas tugas-tugas yang dibebankan, menghidupi komunitas yang semakin inklusif, inovatif dan transformatif.

 

Berkah Dalem +

Rm. Simon Atas Wahyudi, Pr