Home Renungan PERNIKAHAN DI MASA PRAPASKAH?

PERNIKAHAN DI MASA PRAPASKAH?

3,033
0
SHARE
PERNIKAHAN DI MASA PRAPASKAH?

Kadang ada umat yang bertanya, apakah diperbolehkan menyelenggarakan pernikahan pada masa Prapaskah dan Adven. Jawaban secara singkat adalah boleh dengan tetap mengindahkan ketentuan masa Prapaskah dan Adven. Bagaimana penjelasannya?

 

Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) arttikel 372 menuliskan demikian: Misa Ritual adalah Misa yang dirayakan dalam kaitan dengan sakramen dan sakramentali. Misa ritual dilarang pada hari-hari Minggu selama Masa Adven, Prapaskah, dan Paskah, pada hari-hari raya, pada hari-hari dalam oktaf Paskah, pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, pada Rabu Abu, dan selama Pekan Suci. Di samping itu hendaknya diindahkan kaidah-kaidah khusus yang diberikan dalam buku-buku rituale atau dalam rumus Misa yang bersangkutan.

 

Yang termasuk misa ritual adalah misa pemberkatan perkawian, pemberkatan rumah dan pemberkatan-pemberkatan lainnya. Dengan demikian dikatakan bahwa pada prinsipnya misa pernikahan dilarang pada hari-hari yang disebutkan di atas. Apalagi kecuali Sakramen Tobat dan Pengurapan Orang Sakit, perayaan-perayaan sakramen lain termasuk Ekaristi, Baptis, Perkawinan tidak diperbolehkan pada hari Jumat Agung dan Sabtu Suci/Paskah (Surat Edaran Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen mengenai Perayaan Paskah dan persiapannya, 16 Januari 1988, no. 61 dan 75)

 

Dalam pelaksanaannya, sesuai dengan dokumen-dokumen di atas, diambil kebijakan bahwa penerimaan perkawinan pada masa Adven dan Prapaskah masih diperbolehkan dengan mengingat makna dan ketentuan khusus masa Adven dan Prapaskah sebagai masa pertobatan.

 

Dengan demikian, sebagai umat Katolik kita musti bijak dalam memilih dan menentukan hari perkawinan. Sebisa mungkin menghindarkan hari-hari tersebut di atas untuk melangsungkan perkawinan. Bagaimanapun, perkawinan itu bernuansa kegembiraan, pesta, meriah. Hal yang justru kita hindari pada masa Adven apalagi Prapaskah.

 

Namun ketika situasi mendesak dan tiada pilihan lain, penerimaan perkawinan masih tetap bisa dilangsungkan dengan prinsip ugahari. Misalnya penerimaan perkawinan tetap dilangsungkan dengan tanpa menyelenggarakan pesta atau resepsi, cukup dengan kenduri berbagi berkat kepada tetangga di kanan-kiri.

 

Bisa juga diambil kebijakan penerimaan perkawinan di gereja tanpa misa dengan hiasan altar tetap mengindahkan suasana masa Adven dan Prapaskah; tanpa hiasan bunga, dekorasi secukupnya di sekitar altar dengan dedaunan.

 

Dan tetap tidak diperkenankan pada hari Rabu abu, selama pekan suci, oktaf paskah, dan peringatan arwah semua orang beriman 2 November untuk melangsungkan upacara pernikahan.

 

Melalui ketentuan-ketentuan liturgi ini kita diajak untuk bisa menghayati masa Adven dan Prapaskah sebagai masa pertobatan. Terlebih masa Prapaskah sering juga disebut sebagai masa "Retret Agung" bagi seluruh umat beriman di mana kita diajak untuk berpuasa dan pantang serta berbagai niat pertobatan yang diwujudkan secara konkret baik secara pribadi, keluarga, kelompok kategorial maupun kebersamaan umat di wilayah (teritori) tertentu. Pada masa ini kita diajak untuk hidup lebih sederhana, membina solidaritas dan berbagi rasa dengan mereka yang menderita dan berkekurangan, meneliti batin dan menyelami belas kasih Allah.

 

Maka, tidak dilarang untuk melangsungkan pernikahan di masa Adven dan Prapaskah. Tetapi adalah bijak bagi umat Katolik untuk tidak memilih melangsungkan pernikahan di masa Adven apalagi Prapaskah.