Home PIA Rekoleksi Misdinar 2018

Rekoleksi Misdinar 2018

935
0
SHARE
Rekoleksi Misdinar 2018

Bila tahun lalu para putra-putri altar atau misdinar melakukan ziarah ke Goa Maria Sriningsih dan rekreasi ke kebun binatang Gembira Loka, maka tahun ini mereka menyelenggarakan rekoleksi dan reorganisasi putra-putri Altar yang bertajuk “Living in Christ”. Kegiatan yang diikuti oleh 66 peserta ini diselenggarakan tanggal 28-29 Juni di Wisma Wijaya Kusuma Kopeng.

            Ada lima sesi utama pada kegiatan tersebut, yaitu: rekoleksi yang dipandu oleh Suster Nur. Evaluasi dan Harapan, ibadat pagi. team building oleh Optimus Training Centre dan sesi terakhir reorganisasi untuk memilih kepengurusan yang baru.

Pada sesi pertama, suster Nur memutarkan dua film pendek tentang motivasi menjadi misdinar. Sedangkan film kedua tentang semangat membantu orang lain. “Pada intinya film tersebut menjelaskan bahwa menjadi misdinar sebaiknya bukan karena paksaan, bukan karena coba-coba tetapi karena keinginan dari dasar hati yang berlandaskan rasa cinta kepada Tuhan” demikian tutur Evelyn, salah satu peserta kegiatan tersebut.

            Selain merefleksikan semangat menjadi Putra-Putri Altar. Suster Nur juga mengajak para peserta berdiskusi tentang kata-kata positif seperti: cinta, beriman, percaya, dll. Para peserta yang dibagi dalam 10 kelompok tersebut juga diminta mengekspresikannya dalam berbagai cara seperti yel-yel, puisi dan pantun agar lebih mengena.

            Setelah mendapatkan pencerahan tentang motivasi menjadi misdinar, para peserta kemudian diajak untuk sharing dalam kelompok kecil, memikirkan kembali apa motivasi menjadi misdinar, apa yang perlu diperbaiki serta menyampaikan harapan kedepan. Sesi yang dipandu oleh Mbak Nia, Bu Lisa dan Mas Wisnu ini juga memberikan kesempatan bagi masing-masing peserta untuk memberikan masukan bagi kawan-kawannya secara pribadi, dengan memasukkan tulisan ke dalam amplop yang ada di punggung masing-masing.

            Hari kedua adalah hari yang menyenangkan, kegiatan team building dikemas secara menarik. Bagas Reshal, team Optimus TC yang juga merupakan OMK dari Bukit Kencana Jaya  1 mengajak semua peserta melakukan berbagai permainan. Salah satunya adalah membuat maskot dari kertas Koran. Hasilnya pun bagus-bagus, perwakilan kelompok diminta berlengak-lenggok, dan kelompoknya Saka terpilih sebagai maskot terbaik.

Meski dengan fasilitas terbatas, peserta laki-laki tidur lesehan di aula, tetapi para peserta tetap senang dan bersemangat, termasuk Titus Bayu Anggraito, salah satu peserta kegitan ini. “Senang karena dapat bertemu teman-teman dan menjalin hubungan dengan sesama misdinar. Harapannya sih, kedepan saya bisa menjadi lebih rajin bertugas dan memperbaiki yang salah juga dapat lebih mendengarkan ketika diberi materi saat pertemuan” tuturnya. Elan pun sependapat dengan Titus, menurutnya kegiatan ini dapat mengisi liburan yang bermanfaat, daripada suwung di rumah.

 

Avint terpilih sebagai Ketua Misdinar

            Puncak kegiatan dua hari ini adalah pemilihan pengurus baru periode 2018-2020. Vincentius Kristian Wahyu Adi, yang biasa dipanggil Avint telah terpilih sebagai Ketua. Dia diampingi oleh dua sekretaris yaitu Christopher dan Shannon. Selain itu dipilih juga jaringan komunikasi yang terdiri dari: Ica, Ajeng, Wonda, Kirana, Monica, Tasya, Dimas, dan Adit.

            Selain memilih pengurus, sebagai apresiasi kepada anggota yang aktif, maka dilakukan pula pemilihan putra putri altar yang paling rajin. Dezzevy (Sambiroto 1) terpilih sebagai misdinar yang terajin, dilanjutkan oleh Vincentia (BKJ1) dan Karin (Sambiroto).

            Panitia sekaligus pendamping Putra - Putri Altar, Bapak Danar Suprihasto merasa senang karena kegiatan berjalan lancar. “Proficiat kepada para pengurus yang terpilih, terimakasih kepada para pengurus periode sebelumnya. Proficiat juga kepada para misdinar yang terajin. Semoga kedepan semakin banyak anak-anak yang bersedia terlibat dalam pelayanan, melalui kegiatan misdinar” tutur Pak Danar kepada Kunci. Disampaikan pula bahwa kegiatan ini merupakan agenda dua tahun sekali sesuai masa jabatan kepengurusan. Tahun depan kemungkinan tidak rekoleksi, tetapi ziarah atau outing yang lain.** [kontributor: Evelyn, Nia | ditulis oleh: Elisabet Widyastuti]