Home Lingkungan Sembahyang Tesbeh di Lingkungan BKJ1

Sembahyang Tesbeh di Lingkungan BKJ1

341
0
SHARE
Sembahyang Tesbeh di Lingkungan BKJ1

“Sembah bekti kawula Dewi Maria, kekasihing Allah, Pangeran nunggil ing Panjenengan Dalem. Sami-sami wanita Sang Dewi pijuni piyambak, saha pinuji ugi wohing Salira Dalem Sri Yesus….”

Demikian doa salam Maria versi Bahasa Jawa mengalun dari setiap umat yang hadir pada acara doa Rosario Lingkungan St. Maria Bukit Kencana Jaya 1. Selama bulan Oktober, sebulan penuh, di lingkungan ini menyelenggarakan doa Rosario setiap jam 19.00 WIB. Seperti biasa, doa Rosario ini bergilir dari satu rumah ke rumah yang lainnya. Namun yang membuat berbeda adalah doanya menggunakan bahasa Jawa.

Mengapa menggunakan bahasa Jawa? Menurut Bapak Petrus Yunianto, Sekretaris Lingkungan, hal ini terinspirasi salah satu renungan bulan kitab suci nasional (BKSN), pada minggu kedua dengan tema mewartakan kabar gembira di tengah kemajemukan budaya. Dalam refleksi tersebut disadari bahwa saat ini kita mengalami kesulitan mempelajari bahasa Jawa, apalagi oleh generasi muda. Oleh karena itu muncul ide untuk mengenalkan lagi bahasa Jawa kepada anak-anak dalam komunitas lingkungan. Juga karena sebagian besar warga BKJ1 adalah suku Jawa. Salah satu langkah konkritnya dengan sembayang tesbeh sebulan penuh.

“Awal-awal pelaksanaannya agak kaku, dari sambutan awal terasa seperti kondangan, kemudian pada waosan injin pada awal-awal seperti masih mengeja, namun menginjak hari ke-6 sudah mulai lancar. Memasuki hari ke-15 keatas anak-anak sudah banyak yang hafal Sembah Bekti Dewi Maria” tutur Pak Petrus menyampaikan tantangan yang dihadapi kepada kunci.

Menanggapi hal ini, Honest Pratikno, salah satu umat BKJ1 menyampaikan bahwa kedepan perlu dievaluasi ”Mungkin ada juga umat yang kecewa atau kurang sreg karena bahasanya sulit di mengerti, tetapi sebagai sebuah proses pembelajaran tidak ada salahnya untuk dilakukan. Tentunya kedepan perlu dievaluasi”.

“Nggak paham artinya apa, tapi lama-lama karena sering mendengar maka hafal juga doa Sembah Bekti” kata Felisita, wakil ketua OMK, yang merasa awalnya tidak paham dengan doa menggunakan bahasa Jawa. Mengingat tidak semua bisa Bahasa Jawa maka pengurus lingkungan pun menyediakan teks doa Rosario untuk seluruh umat.

Satu hal lain yang menjadi ciri khas adalah setiap keluarga yang ketempatan doa Rosario tidak diperkenankan menyediakan hidangan makan atau snack. Hanya air putih atau permen. Puji Tuhan, selama sebulan penuh doa Rosario dapat diselenggarakan tanpa halangan. Kolekte terkumpul sebesar Rp. 2.149.000,- (dua juta seratus empat puluh Sembilan ribu rupiah).